Pertama di Idonesia, Blora Menjadi Pilihan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif Padi Lahan Sawah Tadah Hujan Balitbang Kementerian Pertanian


Bupati Blora Arief Rohman bersama Kepala Puslitbangtan, Priatna Sasmita dan Dinas terkait, saat melakukan tanam padi perdana dilahan tadah hujan, Kamis (8/4/2021



BLORA -  Kabupaten Blora terpilih menjadi tempat kegiatan Center of Excellent (CoE) Riset Pengembangan Inovasi Kolaboratif (RPIK) Padi Lahan Sawah Tadah Hujan (LSTH) pertama kali di Indonesia.

Tanam perdana ini dilakukan oleh Balitbangtan  Kementan di lahan sawah desa Perantaan, Kecamatan Bogprejo, Kabupaten Blora yang  dihadiri Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Dr.Ir Priatna Sasmita dan  Bupati Blora H. Arief Rohman, Kamis (7/4/2021).

Blitbangtan - Kementan mencanangkan Program Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) pada  tahun 2021 ini.

Dr. Ir. Priatna Sasmita berharap, teknologi dan inovasi yang telah dihasilkan dapat dikembangkan secara masif. 

"Hilirisasi akan dapat berjalan dengan baik apabila ada berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah," Ujar Priatna Sasmita.

Kepala Balitbangtan menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Blora dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora atas dukungan dan atensinya yang sangat besar dalam Program Riset Pengembangan, khususnya untuk peningkatan produksi padi lahan sawah tadah hujan. 

"Momentum tanam perdana bersama Bupati ini menjadi tanda bahwa kolaborasi Riset Pengembangan telah terjalin dan harus berlanjut sampai dengan kebijakan daerah dalam program peningkatan produksi padi lahan sawah tadah hujan khususnya," Ungkapnya.

Dalam hal ini,  bahwa Center of Excellent RPIK Padi Tadah Hujan adalah wahana penerapan teknologi yang telah dihasilkan BALITBANGTAN.

Keterbatasan pasokan air di musim kemarau an karakteristik tanah yang spesifik sehingga perlu upaya untuk meramu paket teknologi di LSTH. Teknologi VUB Cakrabuana dengan potensi hasil 10.2 t/ha, tahan penyakit blas, agak tahan wereng batang coklat dan HDB, pemupukan spesifik, sistem tanam, pengendalian HPT, dan teknologi pengelolaan air yang telah tersedia akan diterapkan dan dikembangkan di lokasi CoE. 

Disamping itu, untuk pengembangan kawasan berskala luas yang berkelanjutan akan dilakukan pembinaan penangkar benih berbasis korporasi dan peningkatan kapasitas petani dan penyuluh. 

"Rincian kegiatan CoE terdiri atas: perbanyakan benih, display VUB, sistem tanam, pengendalian hama penyakit, pengolahan tanah, nutrisi hara, pengelolaan air, model sistem usahatani, dan kaji terap," tambahnya. 

Harapannya pelaksanaan CoE dapat terlaksana dengan baik, terarah, dan diharapkan menjadi model peningkatan produktivitas padi sawah tadah hujan serta dapat dikembangkan ke wilayah lainnya. Target pengembangan adalah >1.000 hektar.

Perlu disampaikan bahwa, Program RPIK LSTH didahului dengan baseline survey untuk penentuan lokasi CoE. Program ini diharapkan terjadinya kolaborasi, tidak hanya pada internal instansi Balitbangtan, namun kolaborasi dan dukungan dari pihak Pemerintah Daerah, terutama Bupati dan Dinas Pertanian setempat. Program yang diusung adalah “PUSPITA” (program peningkatan produksi padi tadah hujan). 

"Program ini adalah kali pertama dicanangkan di Indonesia dan Kabupaten Blora menjadi Lokasi Perdana. Program RPIK LSTH diharapkan akan dihasilkan paket teknologi padi produksi tinggi spesifik dan menaikan indeks pertanaman (IP) LSTH yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani," Jelas Dr. Priatna Sasmita.

Disamping itu, juga dihasilkan Aplikasi Model Sistem Pertanian dan Pusat Informasi Teknologi Padi Spesifik LSTH Kabupaten Blora yang dapat direplikasi untuk provinsi lainnya. Keberhasilan model yang diusung dapat digunakan oleh Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dan para pihak untuk pelaksanaan program peningkatan produktivitas padi di LSTH pada tahun selanjutnya.

Sementara itu, Bupati Blora Arief Rohman menyampaikan terimakasih terkait teknologi padi di lahan tadah hujan yang dilakukan oleh Kementan Balitbangtan yang memilih Blora menjadi area percontohan.

"Kita ketahui Blora ini merupakan daerah tadah hujan,  dengan teknologi ini kita harapkan nanti berhasil dipraktekan sehingga bisa diterapkan tidak hanya di Blora namun bisa diterapkan di daerah lainnya,". Kata Bupati Arief Rohman. 

Untuk diketahui, uji coba padi dilahan tadah hujan ini merupakan pertama kali yang dilakukan Balitbangtan Kementan di Indonesia dan memilih Kabupaten Blora dengan luas lahan 10 hektar. (Agung)



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel