Ternyata Sapi Masih Menjadi Andalan Perhutani Angkut Kayu Tebangan di Hutan

 


REMBANG -  Diera globalisasi moderen Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan masih menggunakan dan mengandalkan Penyaradan  menjadi angkutan kayu tebangan di lerang, bukit maupun dilembah untuk ditarik ditempat pengumpulan kayu-kayu Tebangan. 

Secara historis bahwa menggunakan hewan Sapi untuk menarik hasil kayu Sortimen tebangan ditempat-tempat Pengumpulan. penggunaan Sapi sarad (Penyaradan) adalah budaya turun temurun sejak jaman dahulu oleh pekerja tebangan didalam areal hutan jati yang ada di dalam kawasan hutan.

Penyaradan (pengangkutan kayu) dengan menggunakan sapi dilakukan pada tebangan habis kayu jati. Untuk mengeluarkan kayu-kayu dari hasil hasil tebangan yang sulit dan dari tanah berlumpur maka banyak pekerja di sekitar kawasan hutan untuk mempekerjakan sapinya sebagai penarik hasil tebangan yang sulit untuk diambil dalam pengumpulan kayu-kayu tebangan. 

Sapi-sapi sarad yang sudah dirangkit berpasangan bertugas untuk menarik kayu –kayu tebangan ditempat pengumpulan yang selanjutnya dinaikkan truk apur (truk khusus angkut kayu jati).

Rustam asal desa Mantingan Kecamatan Bulu kabupaten Rembang salah salah satu petani yang menggunakan hewan sapinya untuk dijadikan penarik kayu jati (sapi sarad). 

Dirinya memanfaatkan sapinya untuk menjadikan sapi Sarad yang dapat membantu meringankan pekerjaan mandor tebang dalam mengangkut kayu Sortimen Tebangan ketempat pengumpulan (TP). 

Upah yang diterima sesuai dengan tarip dari Perhutani dalam pembiayaan. "Tergantung faktor kesulitan dan jauhnya penyaradan. kalau medanya sulit ya biayanya menggunakan tarip khusus. tapi kalau medanya datar biaya standart sesuai dengan tarip yang telah ditentukan, " Ujar Rustam

Zaman dahulu pengumpulan kayu-kayu dari tebangan ke penampungan itu menggunakan tenaga manusia. Sekarang dengan adanya sapi sarad pekerjaan lebih ringan dan mudah dalam pengawasan ditempat pengumpulan.

 Ia sudah menekuni pekerjaan sebagai tenaga penyaradan sudah ia lakukan sejak tahun 1978. ia dapatkan pekerjaan ini dari orangtuanya yang terdahulu. dan ia lakukan hingga sekarang.

Dengan adanya tenaga hewan sapi sebagai angkut kayu ke TP ,para penggarap lahan kawasan hutan dan pekerja di areal tebangan  mulailah menggunakan sapi sarad ikut dalam pekerjaan mengangkut kayu. hewan para penggarap itupun menginap didalam kawasan hutan dan tidak dibawa pulang. mereka dikandangkan didekat pos tebangan atupun pos tempat para Polter untuk singgah dan beristirahat di tengah hutan.

Penyaradan dengan sapi ini sekarang hanya digunakan pada lokasi tebang habis jati untuk daerah yang sulit dilewati kendaran baik sepeda motor maupun truk apur. 

Penyaradan dengan sapi ini juga memudahkan petugas dan membantu mandor tebang dalam mengumpulkan sortimen tebangan ketempat pengumpulan. untuk memberikan kesempatan bekerja bagi warga dipinggiran hutan ikut dalam pekerjaan di tebangan, para pekerja ditebangan yang punya sapi dapat dirakit untuk dijadikan sapi sarad dalam kawasan tebangan.

Walaupun sekarang sudah banyak alat-alat berat yang mumpuni tetapi Perhutani tetap menggunakan jasa Sapi Sarad sebagai angkutan disamping menghindari Polusi juga bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar hutan. 

Sehingga kemitraan Perhutani dengan masyarakat akan tetap terjaga dan terjalin dengan baik. kalau pakai peralatan berat biaya sewa sangat mahal dan juga dapat mengganggu tanaman lainya yang ada disekitar kawasan tebangan.

"Disamping fungsi sosial dimasyarakat akan hilang. padahal kPerhutani berbentuk Perum /perusahaan umum. tentunya fungsi sosial dimasyarakat harus tetap diutamakan,” Beber  salah satu petinggi Perhutani KPH Mantingan.(Sigit/ag)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel